Sunday, March 12, 2006

Laporan Kunjungan Wisata Bisnis ke Bandung

Kunjungan Wisata Bisnis ke Bandung memberi banyak sekali informasi dan insipirasi untuk kita semua, khususnya saya pribadi, itulah persepsi saya mengenai kegiatan yang telah dilakukan sabtu kemarin.

Meskipun waktu baru datang di tempat acara (DepKop) saya tidak bisa langsung mengikuti acara karena terikat tanggung jawab sebagai seksi perlengkapan yang harus mengurusi keperluan peserta lain yang dari bandung, tapi itu tidak mengurangi manfaat yang dapat saya peroleh dari kegiatan itu.

Oh, iya... saya mau cerita-cerita nih seputar kejadian yang saya alami kemarin dari pagi sampai malam dalam acara kunjungan bisnis ke Bandung.

Pagi-pagi sekali kami (saya dan mas Purwoko Widodo) bangun karena alarm yang saya stel sudah berbunyi, tepatnya jam 4 pagi. Saya masih merasa sedikit ngantuk karena baru tidur jam 2:30, makanya saya minta Widodo mandi duluan biar saya masih bisa menikmati kencan dengan Kasur dan Bantal, hehehe.. :-) Malam itu saya keasyikan trading forex, karena ingat besok harus pagi-pagi berangkatnya saya terpaksa harus segera mengakhiri keasyikan tersebut. Biasanya saya baru akan tidur jam 3 atau jam 4 pagi.

Setelah selesai berkemas, kami berangkat pada jam 5 pagi, setelah beberapa menit menunggu bus jurusan Depok - Pulogadung tidak ada juga yang datang, akhirnya kami putuskan untuk naik Taxi. Kami stop taxi, dan tanya mau kalau ke Cempaka Putih, mau pakai Argo apa sistem
borongan? Katanya kalau pakai sistem borongan 100rb, tapi kalau mau pakai argo juga boleh. Maka kami putuskan untuk pakai Argo saja, dengan harapan agar lebih murah, hehehe... dasar memang mau nyari yang murah aja :D
Taxi yang kami tumpangi melaju dengan bebas, karena kebetulan hari itu adalah hari sabtu dimana tidak banyak orang yang memanfaatkan fasilitas jalan raya, sehingga kami sampai dengan cepat di tempat tujuan. Jam 5:50 kami sudah sampai PT. Siemens dan argo taxi hanya menunjukkan angka 75.000, kemudian widodo membayarnya dengan pecahan uang 50rb dua lembar, ternyata sang sopir baru keluar dan belum memiliki uang kembalian. Kami cek isi kantong ternyata tidak ada uang pas, akhirnya widodo membiarkan uangnya tidak dikembalikan. (Sahabatku satu ini memang dermawan sekali)

Kami lihat belum ada satupun peserta yang datang, di depan Siemens kami lihat ada Bus yang terparkir, dan saya beranikan diri untuk melihat ke dalam, ternyata tidak ada orang di bagian depannya, rupanya sopir dan kernetnya tidur di bagian belakang. Kemudian kami tanya pada Security, katanya Bus itu sudah datang dari jam 2 pagi tadi, karena mereka tidak dapat menunjukkan surat izin yang diminta, maka tidak diperbolehkan masuk dan diminta parkir di depan saja. Saya telpon pak Hasan untuk mengkonfirmasikannya, ternyata memang itu Busnya. Akhirnya kami duduk-duduk saja di dekat bus itu sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lain.

Tak lama kemudian, satu persatu para peserta mulai berdatangan, dimulai dengan kedatangan pak Iskadri, pak Fathkurohman, pak Masbukhin, pak Abdul Halim Firhad, pak Budi, pak Hertanto, dll. Kami ngobrol-ngobrol dan saling bertukar kartu nama. Kejadian lucu terjadi waktu saya bertukar kartu nama dengan pak Iskadri dan pak Fathkurohman serta pak Hertanto. Kartu nama saya dan mas Widodo memiliki desain yang hampir sama, dan kartu-kartu itu saya simpan di tas saya. Waktu memberikan kartu nama saya, ternyata kartu nama itu punya mas widodo, hehehe... malunya :D

Tak lama kemudian semuanya komplit sudah, dan bis pun mulai berangkat.

Dalam perjalanan itu, acara dimoderatori oleh pak Hasan dan pak Iim. Pengisi acara adalah pak Haji, pak Roni, pak Masbukhin, dll. Acara doorprize juga sangat menyenangkan, sayangnya saya tidak kebagian doorprize. Tapi tak mengapalah, justru lebih baik, karena tangannya tetap menjadi tangan di atas... hehehe... (menghibur diri... )

Cerita pengalaman pak Haji, pak Roni dan pak Masbukhin semakin mengobarkan semangat saya untuk terus maju, meskipun banyak aral melintang, tapi itu bukan apa-apa. Jatuh bangun dalam berusaha adalah hal yang lumrah. Ibarat belajar naik sepeda, kita pasti akan jatuh dulu sebelum lancar mengendarainya. Yang penting... tetaplah bangkit meskipun telah luka dan berdarah akibat kejatuhan itu, ini yang akan saya pegang selalu.

Begitu sampai di Bandung sambutan yang diterima sangat bersahabat dan meriah sekali, sungguh suatu kehormatan yang tak ternilai.
Turun dari Bus saya dan mas widodo langsung membagikan name tag dan kaos kepada peserta yang dari Bandung. Sayangnya waktu membagikan kaos dan name tag itu saya lupa membawa daftar namanya sehingga untuk mendata ulang agak terkendala jadinya. Jadi mohon informasi bagi teman-teman yang dari Bandung jika ada datanya yang kurang di sini.
Berikut adalah peserta yang telah kebagian kaos dan name tag yang sempat saya data:
1. Adhy (Pure Jilbaber)
2. Rifki
3. Ata
4. Budi Firmansyah
5. Ira Yuniwati
6. Rani Lisnawati
7. Indra Mulyanan Gunawan
8. Ali Auza Rusitadi
9. Daniel
10. Ari Sudrajat

Sesuai dengan informasi waktu di Bis, bahwa untuk kaos TDA dikenakan biaya sebesar Rp. 25.000 untuk pengganti ongkos produksinya. Peserta yang telah membayar melalui saya adalah:
1. Adhy (Pure Jilbaber)
2. Rifki
3. Ata
dan uangnya telah saya serahkan pada bendahara kita bu Febby.

Sewaktu berkoordinasi dengan pak Ipung, beliau memberitahukan bahwa nama-nama berikut akan membayar melalui pak Ipung:
1. Bpk. Surya
2. Bpk. Son Son
3. Bpk. Max
4. Istri Bpk. Max
5. Bpk. Ali Auza
6. Bpk. Harun

Demikianlah sedikit laporan dari saya sebagai salah satu fasilitator dalam kegiatan di bandung kemarin.

Ok, cerita kita lanjutkan....!

Setelah acara sambutan, ramah tamah serta dialog di ruang pertemuan, kami dipersilakan mengunjungi ruang pameran. Banyak sekali produk-produk UKM yang dipamerkan dan dijual, sungguh suatu peluang emas yang perlu dimanfaatkan. Produk-produk tersebut sangat bagus dan murah-murah sekali. Dan banyak diantara peserta yang melakukan transaksi untuk sampel yang akan dibawa pulang. Pak Haji saya lihat juga banyak menemukan produk yang bagus-bagus dan juga memberikan saran pada produsen mengenai pengembangan produknya. Dari dialog yang saya dengar antara pak Haji dan produsen, keluhan utama mereka adalah keterbatasan modal usaha, mereka mengalami kesulitan memperoleh modal usaha sesuai dengan kreasi mereka, sehingga terpaksa membuat produk dengan modal seadanya, sehingga hasil yang diperoleh tidak begitu memuaskannya.

Untuk itu, diharapkan dengan kedatangan kita ini, mereka bisa memperoleh peluang untuk memperbesar usahanya dan jangan sampai kita melakukan order yang membuat mereka kecewa.

Perjalanan berlanjut...
Sekarang saatnya mengunjungi pabrik Jail. Saya merasa heran kenapa bis berhenti di depan sebuah bangunan yang sama sekali tidak menunjukkan kalau itu adalah sebuah pabrik, tanpa papan nama, dan segala macam atribut yang menunjukkan kalau itu tempat usaha yang besar. Itulah pabrik kaos Jail. Di dalam pabrik kesibukan tengah berlangsung, dan kami disambut oleh pemilik pabrik Jail tersebut, orangnya masih muda dan ramah sekali. Saya kagum padanya. Suatu saat, saya pun harus bisa seperti dia.
Kami diantar melihat-lihat aktivitas produksi dan melakukan tanya jawab mengenai proses produksi. Untuk proses yang dilakukan di sana tidak semuanya, sebagian dikerjakan di luar. Karyawan yang bekerja di sana diantaranya adalah bagian administrasi, marketing, cutting, quality control dan finishing. Sementara proses jahit dan sablon dilakukan di luar (outsourching). Wah... mereka juga melakukan outsourching juga rupanya, saya pikir hanya perusahaan elektronik besar seperti LG dan Samsung saja yang melakukan hal seperti itu, rupanya perusahaan garment juga melakukannya.

Sungguh diluar prediksi saya, tempat seperti itu mampu menghasilkan omset miliaran rupiah per bulan...

Puas melihat-lihat proses produksi, kami segera berangkat ke Shafira. Di tengah perjalanan bus mengalami kerusakan dan kami terpaksa berganti bus. Syukurlah, rupanya bus yang baru lebih bagus dan lebih nyaman... hehehe...

Sesampai di Shafira, kami tidak bisa langsung masuk, karena mereka sedang break untuk melaksanakan sholat, di pintu depan kami lihat tulisan "Mohon maaf, kami tutup selama 15 menit untuk melaksanakan shalat". Wow... sistem kerja yang ruar biasa... jarang sekali sistem
seperti ini saya temui dalam dunia bisnis, khususnya retail.

Tempat belanjanya indah dan nyaman, pelayanannya ramah dan sopan. Pramuniaganya cantik-cantik, tapi tidak seronok... wah...!! salut buat shafira..!

Saya harap nanti bisa punya butik atau toko seperti shafira ini... amien....

Disana kami melaksanakan sholat di lantai dua, kemudian melihat-lihat produk yang dijual, dan beberapa diantara kami melakukan pembelian juga di sana, ada yang membeli jilbab, ada yang beli buku, de el el es be...

Kemudian kami meneruskan perjalanan ke Parahiyangan Plaza.

Dari kejauhan, tempatnya terlihat biasa-biasa saja, tidak mentereng seperti Atrium Senen, atau mal-mal lainnya di Jakarta. Di dalam juga untuk fasilitasnya tidak terlihat menarik... eskalatornya juga mengeluarkan bunyi yang kurang nyaman.... Tapi itu hanya pandangan sekilas...

Setelah memasuki salah satu kios dan memperhatikan produknya serta melakukan tanya jawab dengan penjaga kios itu... decak kagum tak bisa saya tahan. Ternyata... di kios-kios tersebut menjual produk own brand, dan brandingnya tidak cuma satu bahkan lebih dari dua. Produk tersebut hanya tersedia di kios itu dan tidak dijual di kios lain... bisa dibayangkan jika kios di sana lebih dari 200, berapa banyak brand yang ada di sana...
Dan model-model yang ada di sana banyak yang belum saya temukan di jakarta...

Setelah puas berkeliling di sana, saya pergi ke Masjid yang terdapat di seberang jalan, rupanya di sana telah berkumpul sebagian peserta yang sedang mendengarkan petuah dari pak Haji, saya ikutan mendengarkan kuliah singkat dari pak Haji mengenai bisnis. Kesimpulan yang saya tarik dari kuliah singkat pak Haji sore itu adalah perlunya membangun silaturrahmi dan penguasaan bahasa lainnya untuk kelancaran rezeki. Dimana kalau kita mampu menguasai bahasa lain, baik itu bahasa asing maupun bahasa daerah lain, itu akan menjadi alat yang sangat
bermanfaat untuk memperoleh informasi. Dengan penguasaan informasi, maka peluang dan kesempatan bisnis akan terbuka lebar. Satu hal lagi, jangan tumbuhkan paham kedaerahan/nasionalisme yang sempit dengan menganggap bahwa suku kita/bangsa kita adalah yang terbaik sementara suku/bangsa lain jelek. Kita ini sama di mata yang kuasa. Dicontohkan pak Haji, jika kita menghina sebuah kursi, siapakah yang akan tersinggung? bukan kursinya yang akan tersinggung, tapi pencipta kursi itu. Demikian juga jika menghina orang dari suatu etnis/suku, yang akan tersinggung adalah pencipta etnis/suku tersebut.
Untuk pertemanan, pak Haji juga menasehatkan bahwa kita jangan berteman hanya dengan orang-orang yang satu suku saja, orang padang berteman hanya dengan orang padang, orang jawa dengan orang jawa, orang sunda dengan orang sunda, orang palembang dengan orang palembang... itu suatu tindakan yang kurang membangun dan menghambat perkembangan. Kita harus berteman antar etnis, antar suku, bahkan antar bangsa.
Terimakasih pak Haji atas nasehat dan wejangannya.

Pak Masbukhin juga didaulat oleh pak Haji untuk mengisi kuliah pendek sore itu, dan beliau memberikan komentar dan pandangan-pandangannya untuk mengisi waktu sampai waktu magrib masuk. Banyak sekali pengalaman berharga pak Masbukhin yang disampaikan pada kami. Thanks a lot pak.
Oh iya, sudah ada yang bisa dikadalin pak masbukhin..??? Hehehe... becanda... Kemarin pak Masbukhin menunjukkan miniatur kadal yang dibeli di Parahiyangan plaza, bentuknya unik dan harganya juga tidak terlalu mahal, rencananya mau dijual lagi di tokonya, sambil berseloroh beliau mengatakan kalau akan meng-kadal-i orang-orang di jakarta nanti.... :D

Azan magrib berkumandang, dan kami segera mengakhiri kuliah pendek itu untuk menunaikan panggilan yang kuasa. Dan pak Roni juga melakukan penutupan acara Wisata Bisnis itu sehingga teman-teman yang dari Bandung bisa langsung pulang. Setelah selesai berwudhu, kami memasuki mesjid itu... dan... wah.... luas sekali.... saya pikir inilah mesjid terluas setelah istiqlal yang saya tahu... Imam sudah mulai membacakan surah pendek setelah alfatihah, dan saya terpaksa harus berlari-lari pendek untuk bergabung dengan jamaah itu... lumayan capek juga berlari-lari di mesjid itu...

Setelah selesai menunaikan shalat, segera keluar.. saya lihat teman-teman TDA lain dan pak Haji mengerjakan sholat berjamaah sendiri di bagian belakang, sepertinya terlambat untuk ikut dengan jemaah pertama, karena saking jauhnya perjalananan yang harus ditempuh dari belakang sampai ke depan...

Berkumpul dan ngobrol-ngobrol di luar bersama peserta lain yang telah selesai sholat, kami cerita-cerita tentang bisnis dan pengalamannya. Dan saya juga bercerita tentang rencana kami dari GTA DotCom yang akan mengadakan seminar sehari tentang bisnis online di Metro Tanah Abang yang akan dilaksanakan tanggal 18 Maret nanti, dan kalau ada yang tertarik harap segera mendaftar melalui website www.grosirtanahabang.com karena tempat sangat terbatas, hanya 40 seat bagi peserta dari luar MTA dan 40 seat dari tenant MTA. Pembicaranya adalah pak Roni dari manetvision dan pak Kingking Firdaus pakar pembuat website e-commerce. Kami menawarkan pada pedagang di MTA dua option dalam mengonlinekan produknya, pertama yang paket hemat 500rb diluar biaya hosting dan beli domain (total 800rb untuk hosting tiga bulan) dan setelah 3 bulan, biaya hostingnya adalah 50rb/bulan. Dan paket free yaitu bergabung di www.grosirtanahabang.com, dimana dalam option ini tidak akan dikenakan biaya sepeserpun sebelum terjadi transaksi. Dan kalau terjadi transaksi baru akan dikenakan profit sharing sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Biaya seminar ini gratis, tapi kalau ada yang berkenan menjadi sponsor untuk pembelian snack, soft drink, notes dan pulpen kami akan sangat berterimakasih sekali.

Setelah semuanya berkumpul, kami segera berangkat ke tempat parkiran bus untuk segera kembali ke jakarta.

Dalam perjalanan pulang pak Iim mengisi acara dengan meminta orang-orang yang sempat diajak ngobrol siang itu untuk menceritakan tentang diri dan bisnisnya. Sungguh menyenangkan mendengarkan kisah-kisah peserta kunjungan wisata bisnis ini. Banyak sekali yang dapat dipetik dari pengalaman mereka. Dalam perjalanan pulang itu, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan mbak Yulia tentang agenda kami ke Tanah Abang. Saya dan mas Widodo ke Tanah Abang secara bergantian, karena di rumah ada pekerjaan lain di rumah yang sayang sekali jika ditinggalkan, lagi pula biaya ke MTA juga lumayan, setiap hari sekitar 50rb untuk transportasi dan konsumsi. Kalau berdua akan jadi 100rb, kalau ditotal dalam sebulan, sudah lumayan juga :D
Dan kami merencanakan pertemuan jika mbak Yulia ke Depok nanti, untuk ngobrol-ngobrol mengenai peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan bersama. Dengan senang hati mbak Yulia... Anytime kalau mbak Yulia ke Depok, mohon kontak saya atau mas Widodo ya..... Dalam perjalanan itu, Pak Iim juga tak bosan-bosannya meledek pak Hantiar mengenai pasangan hidupnya, wah... kasian sekali... Meskipun yang bujangan masih ada yang lain tapi tetap saja pak Hantiar tetap jadi bulan-bulanan. Ayo pak Hantiar, maju tak hantiar... cari pasangan segera :D Habis itu baru saya akan menyusul.

Setelah sampai di Jakarta, saya dan mas widodo serta pak Prapto, menunggu angkutan umum di depan PT. Siemens, akhirnya kami naik patas 17 tujuan kampung rambutan. Di bis, kami jadi pusat perhatian karena masih mengenakan kaos yang mirip dan membawa Toa, pasti orang-orang menyangka kalau kami dari Serikat Buruh yang habis melakukan demonstrasi...hahahahaha...

Mas Widodo sempat ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu yang saya dengar berasal dari Yogya, tinggal di Cempaka Putih dan akan pergi ke Depok malam itu. Dan ibu itu menanyakan angkutan umum yang dapat dinaiki. Kebetulan karena satu arah, maka kami ajak bareng-bareng naik Oplet 112. Ibu itu senang sekali karena mendapat kemudahan dan kami juga senang sekali karena bisa membantunya. Ternyata berbuat baik itu tidak sulit dan tidak mahal... Oh iya... ibu itu tidak sendiri, tapi ada temannya yang hampir sebaya dan membawa seorang anak balita dan seorang gadis remaja. Lumayan cakep pak Hantiar, gimana kalau saya kenalkan padanya...??? hehehe... just kidding :D

Beberapa menit kemudian, kami sampai di dekat Stasiun UI, kami pamitan sama ibu itu dan turun dari oplet... tidak lupa mas Widodo membeli voucher isi ulang di Yogya Selular untuk modal kencan nanti malam dengan calonnya dari Padang... Wah... ini bisnis juga nih, coba kalau saya jualan voucher, lumayan prospek juga karena dalam sebulan mas widodo menghabiskan pulsa simpati tidak kurang dari 100rb... ck...ck...ck....

Pak Masbukhin... kira-kira untuk voucher 100rb harga modalnya berapa ya? dan harga jual standarnya berapa? Saya mau start bisnis voucher kecil-kecilan nih... pasar yang saya lihat dan cukup prospektiv adalah mas Widodo, hehehehe... :-) Notes: untuk pak Masbukhin, kalau mau dijawab pakai jalum/japri boleh, dan kalau tidak dijawab juga tidak mengapa, saya bisa maklum. :-)

Sepertinya cas-cis-cus saya sudah cuku panjang nih, sekian dulu aja ya...

Kalau mau liat-liat foto kunjungan wisata bisnis itu coba dicek di sini http://roniyuzirman.blogspot.com/


Wassalam,
Khairul Yanis
--
╔════════════════════════════╗
║ http://grosirtanahabang.com ♥ ║
║ ♥ http://grosir-tanah-abang.blogspot.com ║
║ http://khairyan.blogspot.com ♥ ║
║ ♥ http://basis-forex.blogspot.com ║
╚════════════════════════════╝