Sunday, March 19, 2006

Terbalik

SALAH satu kredo yang selalu saya promosikan secara gencar sejak setahun lalu adalah mengajak orang untuk berani berpikir terbalik. ''Reverse thinking'' atau berpikir terbalik bukanlah teknik berpikir yang baru. Sudah lama dipraktekkan para inovator dan kaum pemikir. Tujuannya semata untuk mencari terobosan baru. Sederhana saja.

Minggu lalu, dalam sebuah diskusi entrepreneur, seorang peserta bertanya, ''Kalau begitu, sukses brownies kukus Amanda itu adalah brownies yang dikukus atau bolu kukus yang di-brownies-kan?'' Ini pertanyaan yang unik. Sebab, menurut cerita, resep asli yang diperoleh Ibu Sugeng pada 1999 dari adiknya di Yogya memang resep bolu kukus. Resep inilah yang kemudian dikembangkan dan disempurnakan menjadi produk andalan brownies kukus Amanda yang saat ini sangat terkenal.

Mungkin saja brownies kukus Amanda adalah contoh berpikir terbalik yang nyata. Andai kata dipromosikan bolu kukus brownies, mungkin konsumen tidak akan penasaran. Tapi, ketika dibalik menjadi brownies yang dikukus, benak konsumen menjadi bertanya-tanya, karena brownies yang biasanya dipanggang menjadi luar biasa dengan pakem yang menyalahi kebiasaan ini. Nah, cara berpikir terbalik atau reverse thinking ini bisa menjadi terobosan yang Anda nanti-nantikan.

Beberapa produk dunia yang menjadi tren global juga tak jarang menggunakan konsep berpikir terbalik. Ketika jam-jam digital Jepang yang sangat murah menyerang pasar global, industri jam di Swiss hampir bangkrut total. Satu perusahaan kemudian berpikir terbalik menciptakan Swatch atau Swiss Watch, yang trendi itu. Swatch tidak menjadi arloji biasa. Orang membeli Swatch bukan karena mutu Swatch sangat akurat menunjukkan waktu, melainkan semata-mata karena Swatch menjadi aksesori fashion baru. Sebuah tren baru yang bentuknya jam tangan. Tak mengherankan apabila orang kemudian mengoleksi Swatch sama seperti orang mengoleksi tas, jaket, dan sepatu.

Contoh lain diterapkan Heinz, produsen saus tomat di Amerika. Mulanya produk saus tomat mengalami kemandekan alias tidak tumbuh secara baik dari tahun ketahun. Semata-mata karena penetrasi pasar saus tomat di Amerika sudah mencapai hampir 100%. Heinz mencoba mencari sebuah solusi terobosan. Secara tradisional, kalau sampai meningkatkan pertumbuhan, Heinz harus mempromosikan orang untuk mengonsumsi lebih banyak saus tomat. Misalnya, saus tomat dijadikan saus pendamping pada makanan lain. Ini cara berpikir yang normal.

Heinz berpikir abnormal atau terbalik. Mungkinkah saus tomat dipakai untuk konsumsi yang berbeda? Dalam survei dan observasi, terutama di gerai-gerai masakan siap saji, ternyata ditemukan anak-anak yang sering menggunakan saus tomat secara berlebihan semata-mata untuk dijadikan permainan. Dengan kentang goreng, misalnya, saus tomat dicorat-coret menjadi bentuk lukisan. Lalu hal ini memotivasi cara berpikir Heinz untuk berpikir terbalik. Mengubah fungsi saus tomat.

Akhirnya Heinz mendesain ulang botol saus tomat dengan menggunakan bahan plastik dengan moncong lebih runcing, sehingga memudahkan anak-anak menggunakannya. Dengan botol ini, anak-anak menemukan saus tomat Heinz lebih asyik dipermainkan atau dijadikan alat untuk melukis. Heinz kemudian juga menciptakan saus tomat dengan warna baru, yaitu biru, hijau, dan ungu. Anak-anak merasa gembira karena punya mainan baru saus tomat aneka warna.

Ibu-ibu mulanya kesal dengan ulah Heinz ini, tapi kemudian ikut arus. Anak-anak yang susah makan menjadi lebih mudah makan karena menemukan bahwa makan bisa menjadi rekreasi baru. Celakanya, ibu-ibu yang tadinya hanya membeli satu botol saus tomat, kini harus membeli dua-tiga botol. Dalam waktu seketika, penjualan saus tomat Heinz menjadi berlipat ganda. Tumbuh lebih cepat berkat pemikiran yang tidak normal.

Ketika produsen alat-alat olahraga Puma ingin menciptakan produk-produk eksklusif, mereka juga berpikir melawan arus. Diciptakanlah serangkaian produk yang ditujukan buat eksekutif, menggunakan merek baru, ''96 hours''. Produk-produk ''96 hours'' sangat revolusioner, di mana produk Puma dijual dalam satu koper kecil praktis, yang memungkinkan seorang eksekutif berpergian selama empat hari tapi memiliki pakaian lengkap hingga sepatu lengkap. Uniknya, konsep ''96 hours'' tidak dipublikasikan secara luas, tapi dirahasiakan. Hasilnya, ''96 hours'' jauh lebih cepat terkenal dan menyebar dibandingkan apabila diiklankan. ''96 hours'' menciptakan rasa penasaran yang begitu besar di kalangan eksekutif.

Kafi Kurnia
peka@indo.net.id
[Intrik, Gatra Nomor 18 Beredar Senin, 13 Maret 2006]

No comments: